Tidak Kayu, Tangga Dikeping!
Tidak (ada) kayu, tangga (kayu) dikeping adalah semangat yang kami panen dari pertemuan-pertemuan dengan puluhan inisiatif (individu ataupun kolektif) yang terus bergerak di Solok 10 tahun terakhir: menyiasati keterbatasan akses dan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak. Pertemuan-pertemuan tersebut diakomodir dalam dialog-dialog artistik, menemukan kesaaman, memperkuat akar, menetapkan dan menjalankan agenda bersama dalam mewujudkan imajinasi plural yang belum dinamai.
Tenggara Festival mengajak publik untuk memeriksa kembali apa-apa yang tersedia di sekitar kita, human ataupun non-human, releasi kita dengan alam, baik itu secara spritiual, ekonomi, pengetahuan, dan lainnya; Memetakan kembali gerakan-gerakan kultural warga, yang tidak hanya sebatas menerobos keterbatasan bahasa birokrasi dan kerja-kerja institusional, tetapi juga semangat menata ulang tali kekang, mengatur laju pembangunan yang berpihak pada keselematan di masa mendatang. Dengan demikian semangat “Tidak Kayu, Tangga Dikeping” tidak hanya dimaknai sebagai bersiasat dan menemukan alternatif saja, tetapi juga proses menemukan bahasa-bahasa yang elegan dan bermartabat dalam permainan peran yang duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.
TENGGARA FESTIVAL 2025
“Tidak Kayu, Tangga Dikeping!”
Tenggara Festival adalah sebuah perhelatan seni dua tahunan yang digagas oleh Komunitas Gubuak Kopi bersama jejaring komunitas di Sumatera Barat sejak tahun 2020. Festival ini menjadi ruang perayaan dan perluasan wacana seni yang diinisiasi oleh komunitas warga dalam berjejaring membangun kota yang lebih inklusif. Festival ini memberi ruang pada inisiatif anak muda, kelompok warga, seni jalanan, dan praktik D.I.Y untuk bertindak secara kolaboratif bersama ekosistem kota, demi ruang hidup yang lebih baik.
Tahun ini Tenggara Festival mengusung “Tidak Kayu, Tangga Dikeping” sebagai tema utama. Tidak (ada) kayu, tangga (kayu) dikeping adalah semangat yang kami panen dari pertemuan-pertemuan dengan puluhan inisiatif (individual maupun kolektif) yang terus bergerak di Solok: menyiasati keterbatasan akses dan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak. Pertemuan-pertemuan tersebut diakomodir dalam dialog-dialog artistik, menemukan kesamaan, memperkuat akar dan menetapkan agenda bersama dalam mewujudkan imajinasi baru ataupun “dunia-dunia” yang belum dinamai.
Sejak awal tahun 2025, Tenggara Festival bersama Komunitas Gubuak Kopi melalui platform Daur Subur memetakan kembali kelompok-kelompok baru ataupun kelompok jejaring Tenggara Festival yang masih aktif berkegiatan di Solok. Dari sini kami bertemu dengan sejumlah kelompok masyarakat yang coba mengartikulasikan posisi kritis sebagai warga berdaya, serta melakukan upaya perubahan konkrit bagi wilayahnya, melalui berbagai pendekatan, salah satunya adalah seni-budaya. Kelompok-kelompok tersebut antara lain kelompok tani, kelompok kuliner, film maker, konservasi lingkungan, dan lainnya, yang kemudian dipertemukan kembali dalam pendekatan seni-budaya.
Komunitas Gubuak Kopi sebagai organisasi budaya yang berfokus pada pengembangan seni dan media dalam memediasi inisiatif pembangunan yang adil dan lestari, melihat inisiatif komunitas dan pendekatan seni-budaya merupakan salah satu potensi yang penting untuk diperbesar. Pertemuan-pertemuan tersebut kami lanjutkan dalam sejumlah dialog-dialog artistik guna seperti masak bersama, arisan pertanian dan pangan sehat, workshop tanaman pewarna, dan lainnya. Dialog-dialog ini merefleksi apa-apa yang kita punya, mempertanyakan kembali hubungan kita dengan alam baik secara spiritual, ekonomi, sosial, dan politik. Dari pertemuan-pertemuan ini kami menyadari kembali bahwa kita adalah pewaris kebudayaan masyarakat pertanian. Pertanian kemudian menjadi poros yang mendorong munculnya adab, adat, dan pengetahuan lokal. Dengan demikian munculah sebuah agenda bersama untuk melihat Solok sebagai salah satu Hub Kebudayaan Pertanian.
Agenda tersebut kemudian dipertebal dengan rentetan pertemuan lainnya, seperti Daursubur Akhir Bulan, diskusi terpumpun bersama pemangku kebijakan, peneliti, akademis, dan sejumlah kolaborasi untuk mengaktivasi ruang dan program. Namun, Tenggara Festival juga menyadari bahwa “identitas kolektif” tidak pernah clear, ia dinamis dan tidak permanen. Ia adalah imajinasi pada kemungkinan yang bisa diupayakan saat itu secara kolektif. Ia berkembang sejalan dengan permainan sejarah, budaya, dan kuasa. Proses kemenjadian ini pun terus diperkuat dan dilatih sampai terbiasa, sampai kita tidak perlu bertanya lagi, “siapa kita? Seperti apa karakter mental kita?” Dan hal-hal lain yang mungkin sulit dicapai dengan kerja-kerja institusional ataupun rapat dengan pemerintahan.
Tenggara Festival menyadari bahwa setiap elemen ekosistem masyarakat, baik itu pebisnis, pemerintahan, pun turut mengupayakan sesuatu. Tenggara Festival hadir untuk mengikat imajinasi tersebut, dan menjahit inisiatif-inisiatif tersebut dalam mewujudkan agenda bersama. Bagi Davis (1979) imajinasi kolektif merupakan metamorfosis dari memori kolektif yang ditambahkan oleh hasrat utopia dan proyeksi masa depan. Individu tidak mengalami kota secara keseluruhan. Alih-alih sebagai instrumen pemikiran yang rasional, ia memaknainya sebagai upaya warga dalam memahami kembali ke masa lalu, masa kini, dan masa depan komunitas mereka. Memahami kembali posisi hari ini dengan memproyeksi masa depan yang tengah dalam proses pembangunan (Ismal Muntaha, 2023).
Tenggara Festival mengajak publik untuk memeriksa kembali apa-apa yang tersedia di sekitar kita, human ataupun non-human, sebagai kepentingan yang perlu kita dengar suaranya. Memetakan kembali gerakan-gerakan kultural warga, yang tidak hanya sebatas menerobos keterbatasan bahasa birokrasi dan kerja-kerja institusional, tetapi juga semangat menata ulang tali kekang, mengatur laju pembangunan. Mempertemukan kerja-kerja kebudayaan, pengarsipan, masyarakat, dan strategi pembangunan. Dengan demikian semangat “Tidak Kayu, Tangga Dikeping” tidak hanya sekedar undangan bersiasat dan menemukan alternatif, Ia merupakan proses artikulasi dari identitas kolektif dalam menentukan posisi politiknya, sebagai subject yang menentukan keberlangsungan hidupnya. Ia juga proses kemenjadian menemukan bahasa-bahasa yang elegan dan bermartabat dalam permainan peran yang duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.
Pameran Tenggara Festival menghadirkan karya-karya yang mengakselerasi semangat “berkesenian” yang menyusup dalam keseharian warga, baik itu sebagai artefak-artefak gerakan maupun fungsi praktisnya dalam mengakselerasi semangat berdaya.
Pameran Tenggara Terdiri dari
- Pameran Daursubur XI: Presentasi publik dari kegiatan lokakarya dan residensi Daursubur XI yang berlangsung sejak Juni-Juli 2025 lalu. Proyek ini merespon kehadiran ruang dan inisiatif warga dalam membangun ekosistem kebudayaan pertanian di Solok melalui kolaborasi, produksi narasi, aktivasi program, aktivasi ruang, dan menyusun agenda bersama Solok sebagai salah satu hub kebudayaan pertanian.
- Partisipan Residensi: M.Ilham Samudra (Jatiwangi Art Factory, Majalengka), Avi Chadijah (Memo Dapur, Makassar), Rizziq Ramadhan dan M. Rayhan Fauzi (Makmur Djaja, Jakarta), Angelique Maria Cuaca (Padang).
- Kolaborator: Hendra Saputra (Galanggang Raya Farm), Rio Ritu Selah (Huma Inovasi), Upiak DNR (PokdarwisTangaya), Sofni (Badaceh), Buya Khairani (Tokoh Masyarakat), Mimi (Batik Tarancak), Elmiko (Tujueh Sapilin)
- Pameran Fotografi: Menghadirkan dialog perkembangan wacana fotografi di Solok. Menghadirkan seniman/fotografer Solok dan luar kota untuk saling memperkenalkan proyek-proyek fotografi yang dekat dengan keseharian mereka.
- Partisipan pameran: Nanda Vagasta (Solok), Aditya Firmansyah (Solok), Alma Noka Alessandro (Majalengka), Elisabeth Iskandar (Jakarta), Rian Maulana (Solok), Dean Bierdio Ketapuan (Solok), Septarieldi (Solok)
- Pameran 100 Poster: Menyajikan 100 artwork terpilih dalam bentuk poster, yang merespon tema Tenggara Festival 2025: Tidak Kayu, Tangga Dikeping
- Pameran Cute Core: adalah pameran arsip Almarhum Annisa Rizkiana Rahmasari, atau yang biasa dikenal dengan Autonica. Autonica merupakan seorang ilustrator, pegiat zine, dan muralis, ia juga merupakan partisipan residensi Tenggara Festival 2020, yang turut berkontribusi dalam penetapan semangat Tengga Festival. Semangat Autonica dalam menebar kebahagian dalam membangun kota sebagai ruang hidup bersama.
- Pameran Daursubur XI: Presentasi publik dari kegiatan lokakarya dan residensi Daursubur XI yang berlangsung sejak Juni-Juli 2025 lalu. Proyek ini merespon kehadiran ruang dan inisiatif warga dalam membangun ekosistem kebudayaan pertanian di Solok melalui kolaborasi, produksi narasi, aktivasi program, aktivasi ruang, dan menyusun agenda bersama Solok sebagai salah satu hub kebudayaan pertanian.
Simposium Tenggara
Ruang pertukaran wacana antar aktor kebudayaan dan inisiatif/gerakan pertanian, dalam merespon pentingnya kesadaran akan produksi pertanian dan pangan sehat yang berkelanjutan di Solok dan di Sumatera Barat secara umum. Ruang ini juga mengajak kita merefleksi ulang produksi narasi dan proses berbagi peran dalam mewujudkan imajinasi kolektif, Solok sebagai salah satu hub kebudayaan pertanian.
Sesi Panel
- Panel I – Merawat nilai-nilai kebudayaan pertanian melalui praktik seni-budaya
Sesi ini mengajak kita merefleksi keterbatasan kerja-kerja institusional dalam merespon persoalan lokal, serta bagaimana posisi kesenian dalam mengikat ataupun memperkuat ide-ide pembangunan berbasis komunitas terkini, sebagai pewaris kebudayaan pertanian yang berdaya dan bermartabat.
Panelis: M. Ilham Samudra (Jatiwangi Art Factory, Majalengka), Rani Jambak (Rumah Gagas, Agam) dan Jumaidil Firdaus (seniman, Solok). Moderator: M. Biahlil Badri (Komunitas Gubuak Kopi, Solok)
Kamis, 7 Agustus 2025
16.00 – 17.30 WIB
RN Coffee Shop, Kota Solok
- Panel II – Berbenah menuju pertanian sehat.
Sesi ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai situasi terkini pertanian di Solok. Baik itu keterkaitannya dengan dampak warisan pertanian kolonial, proyek swasembada pangan, skema industri yang cepat, masif, dan monokultur. Serta kemungkinan-kemungkinan yang dapat ditempuh baik dalam skala komunitas maupun kebijakan menuju pertanian sehat yang berkelanjutan.
Panelis: Wahyu Nusa Lubis (Bukit Gompong Sejahtera, Solok) dan Dr. Eka Candra Lina, M.Si, S.P (Peneliti Pertanian/Universitas Andalas, Padang). Moderator: Silvi Lestari, S.P M.Kom (PT. Huma Inovasi, Solok)
Jumat, 8 Agustus 2025
1 6.00 – 17.30 WIB
RN Coffee Shop, Kota Solok
- Penel III – Kedaulatan dan keberagaman pangan
Topik ini merespon isu-isu krisis pangan dunia, mengkritisi ketergantungan pada satu jenis pangan (seperti beras), mengupayakan keberlanjutan sistem pangan. Sesi ini mengajak kita merefleksi ide diversifikasi dan pengembangan pangan kearifan lokal sebagai upaya untuk memperluas jenis pangan dengan memaksimalkan potensi sumber daya pangan lokal di sekitar, dengan tetap sadar akan perkembangan nilai-nilai kearifan lokal, ekonomi, sosial, kesehatan, dan politik.
Panelis: Silvi Lestari, S.P M.Kom (PT. Huma Inovasi, Solok) dan Risya Ayudia (Selarasa, Jakarta). Moderator: Nisya Tri Yolanda (Punkbacot, Mojokerto)
Sabtu, 9 Agustus 2025
16.00 – 17.30 WIB
RN Coffee Shop, Kota Solok
Jumat, 1 Agustus 2025 | 15.00 WIB – Selesai (Opening) | Area Gallery 88
- Sanggar Sisinga Barantai
- Sanggar Kancak Galundi
Selasa, 5 Agustus 2025 | 19.30 WIB – Selesai | di Rumah Tamera – Komunitas Gubuak
- Apiapi (Bukittinggi)
- Bedabarat (Padangpanjang)
Kamis, 7 Agustus 2025 | 19.30 WIB – Selesai | di Rumah Tamera – Komunitas Gubuak Kopi
- Rani Jambak (Lasi, Agam)
- Jumaidil Firdaus Project (Solok)
Sabtu, 9 Agustus 2025 | 20.00 WIB – selesai | di Area Gallery 88
- Si Boy (Linggau)
- Western Tiger (Bukittinggi)
- Tomy Bollin (Bukittinggi)
Program ini menghadirkan tontonan karya-karya film komunitas sebagai metode memantik isu-isu keberdayaan warga dan relevansi kebudayaan lokal. Program penayangan film ini akan dikurasi oleh Rivaldo Cristenseen Situngkir dan Donny Leonardo, atau yang biasa disapa Pak Raka, seorang guru pengajar studi perfilman di SMK N 1 Kota Solok.
- Senin, 4 Agustus 2025
10.00 – 12.00 WIB
di Aula SMK N 1 Kota Solok - Rabu, 6 Agustus 2025
20.00 WIB – Selesai
di RN Coffee, Kota Solok - Jumat, 8 Agustus 2025
20.00 WIB – Selesai
di Rumah Tamera – Komunitas Gubuak Kopi, Kota Solok
Kegiatan ini diinisiasi oleh Galanggang Raya Farm dalam rangkaian Tenggara Festival 2025, sebagai ruang dialog dan berbagi pengetahuan mengenai inovasi-inovasi pertanian yang diinisiasi oleh komunitas warga ataupun kelompok-kelompok tani warga di Solok, Sumatera Barat.
- Selasa, 5 Agustus 2025
9.00 – 11.00 WIB
- Selasa, 5 Agustus 2025
Program ini mengundang para remaja untuk mengenal inovasi pertanian sebagai arus utama kebudayaan di Solok melalui tur edukasi yang dimodulasi dalam bentuk zine dan permainan kartu “Daursubur Card”. Kegiatan ini diselenggarakan bersama kelompok tani Galanggang Raya Farm.
Bertandang ke Kandang sebelumnya merupakan proyek residensi Makmur Djaya yang diwakili oleh Rizieq dan Rayhan Fauzi dalam Residensi Daursubur XI bersama Galanggang Raya Farm dan Huma Inovasi.
–
- Minggu, 3 Agustus 2025
9.00 – 11.00 WIB - Selasa, 5 Agustus 2025
9.00 – 11.00 WIB
di Galanggang Raya Farm
Program ini merupakan kegiatan masak bersama yang diinisiasi oleh Muhammad Ilham dalam rangkaian Residensi Daursubur XI, yang kemudian dilanjutkan oleh kelompok warga sebagai ruang dialog membicarakan isu-isu pangan, pengetahuan lokal, dan narasi-narasi kecil yang berkembang di kalangan warga.
Pada rangkaian Tenggara Festival 2025, Dapur Kasih Sayang akan berkolaborasi dengan “pemasak” tamu, antara lain: Selarasa (Jakarta), Upiak DNR (Solok), Ibu-ibu KTK (Solok) yang akan berkolaborasi dengan warga Solok.
Koki Tamu:
- Upiak DNR (Solok) : Sabtu, 2 Agustus 2025 di Galeri 88 Kota Solok
10.00 -12.00 WIB - Ibu-ibu KTK (Solok) : Senin, 4 Agustus 2025 di Parak Batuang Space, KTK, Kota Solok
14.00-16.00 WIB - Selarasa Food (Jakarta) : 6-10 Agustus 2025 di Galeri 88
- Upiak DNR (Solok) : Sabtu, 2 Agustus 2025 di Galeri 88 Kota Solok
- Kelas Satelit
Kelas menggambar untuk anak-anak yang diinisiasi oleh Verdyan Rayner dan Grace Putri Chaniago. Selain berlatih kemampuan visual untuk anak, kelas ini juga mengisi kekosongan atas minimnya ruang pertemuan aktivitas kreatif anak dan aktivitas parenting.
- Sesi I – Jumat, 8 Agustus 2025, di MIS Kampung Jawa | 09.00 WIB – Selesai
- Sesi II – Minggu, 10 Agustus 2025 | 09.00 WIB – Selesai
Program ini mengundang sejumlah seniman grafiti dan mural untuk merespon ruang-ruang warga maupun ruang publik melalui produksi visual yang memantik semangat berdaya “Tidak Kayu, Tangga Dikeping”
Tamu Tenggara:
- Bujangan Urban (Jakarta)
- Cakes (Jakarta)
- Masoki (Padang)
- Ariq (Padang)
- Alun (Padang)
- Verdyan Rayner (Solok)
- Yopedeyz (Jakarta)
- Miranda Curly (Padang)
- Alphabad (Jakarta)
Para seniman akan jamming dan menggambar secara terpisah di 10 titik di Kota Solok!
Program ini mengundang keterlibatan publik untuk menghadirkan perspektifnya dalam melihat ataupun membingkai aktivitas Tenggara Festival 2025 melalui media TikTok.
Suara Bersama: Saling Jaga Saling Rangkul
MTN di Padangpanjang bersama Muklay dan Tempa
MTN AsahBakat bersama Muklay dan Tempa di Padangpanjang
MTN IkonInspirasi bersama Muklay dan Tempa
Tenggara Kids – Sesi #2: Graffity Art Class
Sawala Sinema – Sesi #2
Membuat Komposter: Merawat Bumi dari Sisa-Sisa di atas Meja Makan
Tenggara Musik bersama Tomy Bollin, Si Boy, dan Wester Tiger
Tenggara Kids – Sesi #1: Kolase dan Read Aloud
Dapur Kasih Sayang #6 – Arek Arek Tongseng
Tenggara Musik: Rani Jambak dan Jumaidil Firdaus Project
Pameran “Photography: My Middle Name”
100 Poster Merespon Tenggara Terpilih!
[Simposium Daur Subur] Panel 3 – Kedaulatan dan Keberagaman Pangan
[Simposium Daur Subur] Panel 2 – Berbenah Menuju Pertanian Sehat
[Simposium Daur Subur] Panel 1 – Merawat Nilai-nilai Kebudayaan Pertanian Melalui Seni dan Budaya
Pameran Cute Core: Mengenang Semangat Berkesenian Autonica
Pertunjukan yang akan Membuka Tenggara Festival 2025
Presentasi Publik Daur Subur XI
Ini Dia Tamu Street Art Jamming di Solok!
Asa Pewaris Kebudayaan Pertanian Solok
Berkumpul di Bukik Gompong
Pertanian Sehat Dimulai dari Memanusiakan Manusianya
Pertanian Berkesadaran bersama Satria Arjuna
Cerita tentang “Kota Sepenghidupan” di Jatiwangi
Cerita Rencana Pembangunan Kota Solok di FGD Daur Subur
Cerita dari Pasar Papringan
Rembuk Pengembangan Daur Subur bersama Balai-balai Pertanian
Tumbuh di Tanah yang Sama
KOMITE PENYELENGGARA/ORGANIZING COMMITTEE
Penyelenggara/Organizer
Komunitas Gubuak Kopi
Dewan Artistik/Artistic Board
Albert Rahman Putra, Bujangan Urban, Dika Adrian, M. Biahlil Badri, M. Ilham Samudra
—
KOMITE EKSEKUTIF/EXECUTIVE COMMITTEE TENGGARA FESTIVAL 2025
Direktur Artistik/Artistic Director
M. Ilham Samudra
Direktur Festival/Festival Director
Dika Adrian
Tim Kuratorial/Curatorial Team
Albert Rahman Putra, Bujangan Urban, Doni Leonardo, M. Biahlil Badri, M. Ilham Samudra, Rivaldo Cristenseen Situngkir
Produksi/Production
Biki Wabihamdika, Hafizan, Doni Leonardo, Rivaldo Cristenseen Situngkir, Verdyan Rayner, Aditya Firmansyah, Hendra Syahputra, Khelfindo Fatahila Yoga Pratama, Patrisia Juwita, Septarieldi.
Relasi Publik/Public Relation
Prima Nanda
Penulis/Writer
Angelique Maria Cuaca, Albert Rahman Putra, M. Biahlil Badri
Publikasi/Publication
Volta Ahmad Jonneva, Dika Adrian
Dokumentasi/Documentation
Dean Bierdio Ketapuan
Pendataan/Database
Prima Nanda
Redaktur dan Website
Albert Rahman Putra
Spiritual Consultant
Buya Khairani