Pertanian Berkesadaran bersama Satria Arjuna

Date

Catatan Daursubur Akhir Bulan – Maret 2025

Ramadhan lalu, di Rumah Tamera cukup banyak takjil yang siap untuk disantap. Setiap yang datang membawa menu untuk berbuka, mulai dari gorengan, kolak, pisang rebus, es kopi dan juga lauk untuk makan. Semua hidangan itu akan sama-sama kita teguk, kunyah dan telan, begitu juga dengan topik diskusi malam itu. Hitung-hitung Ramadhan, kegiatan silaturahmi ini juga kita niatkan semoga menjadi nilai ibadah hendaknya.

Diskusi ini dibuka oleh Badri, selaku moderator, ia memaparkan beberapa hal yang akan menjadi fokus pembicaraan/diskusi kedepannya, diantaranya mengajak kita semua untuk melihat tentang pertanian yang berkesadaran, bahwa sebetulnya pertanian tidak hanya soal menanam lalu memanen, tidak hanya soal hal-hal yang bersifat teknis, namun di tengah-tengah proses itu ada sesuatu yang tumbuh dan berlangsung. Mungkin dia adalah sesuatu yang bersifat spiritual yang kemudian menjadi sebuah budaya/tradisi. Juga dari proses itu ada hal-hal yang kita kenal dengan ”adab” yang mempertemukan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan tanah itu sendiri.

Kemudian untuk memantik hal tersebut kita mengajak salah satu partisipan dari Daur Subur Akhir Bulan, yaitu Satria Arjuna atau yang kita kenal dengan sapaan Kak At, adalah teman ngobrol Gubuak Kopi sejak beberapa tahun yang lalu, saat ini beliau lebih senang dikenal sebagai seorang praktisi hipnoterapis. Beliau juga aktif mengolah dan merawat tanaman bonsai, dan beberapa tanaman muda di halaman rumahnya.

Obrolan ini diawali Kak At dengan sebuah pesan dari gurunya ”Bahwa Indonesia mestinya memiliki ribuan titik pertanian, bukan ribuan hektar, karena setiap titik memiliki kekuatan  dan punya kaitannya dengan titik-titik yang lain dan beragam. Ketika padi diberi merk dan dia harus sama tinggi, maka dia menjadi lemah sebenarnya, dia tidak muncul sebagai siapa yang terkuat di antaranya. Seperti kita menanam durian, harusnya ada yang pendek dan yang lebat buahnya dan ada yang jelek juga. Sebenarnya yang jelek dalam barisan durian itu dia memiliki potensi,  jika tidak ada di antaranya yang kurus dan yang penyakitan, maka semuanya akan terkena penyakit, karena tidak ada yang rentan untuk dikeroyok oleh hama. Hari ini pikiran kita sedang dipola, seolah-olah semua tanaman itu mesti sehat semua”.

Kemudian Kak At menambahkan beberapa contoh dari aktivitas tanaman dan hama seperti halnya Galundi, cacing putih pengorek batang dan akar, dia hanya berkumpul pada pohon yang lemah, dia tidak mau memakan pohon yang tebal, karena makanannya tidak di situ. Menurutnya pohon kurus dan penyakitan di antara yang sehat dan tinggi menjulang itu penting adanya, itu harus ada, karena dia akan jadi calon bibit berikutnya.

Hal lain yang menarik kita sadari adalah bahwa “Tanaman tidak pernah mengambil makanan dari tanaman lain” maka bisakah kita mengembalikan lagi hak-hak tanah dan hak-hak pohon, dengan menanam sesuatu yang tumbuh pada tanah itu sendiri dan besar dari ibunya. Terkesan analogi, namun dapat kita percaya bahwa, jika ASI adalah asupan yang paling baik untuk bayi, maka makanan yang sehat untuk tanaman adalah daun yang jatuh dari pohonnya, dan ranting-ranting yang patah dari pohonnya, lalu dikelola oleh berbagai macam bakteri, lalu dia akan tumbuh tanpa perlu diobati.

Melihat pada tradisi kematian, bahwa kita di Minangkabau punya tradisi memperingati kematian seseorang sampai di hari ke-1000, di saat yang sama tubuh manusia akan terurai setelah hari ke-1000 sejak ditanam di tanah. Proses terurainya tubuh manusia dengan semua organnya akan menjadi kompos yang baik untuk kesuburan tanah.

Kak At memberikan gambaran bahwa keikutsertaan kita merawat lingkungan inilah yang akan membuat umur kita (manusia) akan ’panjang’. Seperti manusia-manusia sebelum kita, yang ditanyakan oleh malaikat kepada Allah SWT, mengapa engkau ciptakan kembali manusia yang akan melakukan kerusakan di muka bumi?. Dan sesungguhnya Allah lebih mengetahui. Manusia yang terdahulu yang tidak ada sisanya itu adalah manusia yang melakukan kerusakan, kalau orang-orang yang berfikir dan tidak mau meninggalkan bumi dengan kerusakan, bisakah kita setidaknya seperti cerita burung yang menyerap api ketika Nabi Ibrahim dibakar, lalu cicak menertawakannya “wahai burung, paruhmu yang sekecil itu, lalu kau akan memadamkan api yang begitu besarnya?” Tapi burung itu menjawab “daripada aku tidak ada upaya/melakukan apa-apa, saat melihat kezaliman yang terjadi”.

Diteruskan dengan, orang yang ditinggikan derajatnya di sisi Allah adalah orang yang berilmu, dan memberikan manfaat, dan kata Rasulullah, orang yang beriman itu seperti pohon kurma,  aqidahnya adalah akar (kokoh) batangnya adalah ibadahnya, lalu kemanfaatan buahnya adalah ilmu.

***

Sesi diskusi

Mas Tomi : Diskusi ini sudah kita mulai sejak, beberapa bulan yang lalu, dari Balitro, nah pertanyaan saya ending dari kegiatan ini seperti apakah? Bisakah kita bayangkan?, kita banyak mengundang, kedatangan teman yang memberikan edukasi dan bekal pengetahuan.

…Saat ini posisi kita dekat dengan kolam penampungan tinja, tinja yang sudah menjadi tanah, tidak berbau, memang ini lumpur kotoran manusia, sepertinya kandungannya bagus, kalau ini bisa diteliti, kayaknya ini menjadi sumber yang bagus. Ini hanya sekedar bayangan saya saja untuk kedepannya, mungkin ada yang berminat untuk mengkaji ini.

Kak At : Pengolahan tinja, proses komposisasi ini akan berhasil jika dia mencapai suhu 48°c semua komponen yang berbahaya itu mati. Mungkin kita bisa mencobanya untuk tanaman yang berbuah, mungkin ladang ternak untuk memupuk makanan, kalau itu terbukti pakan ternak ini tumbuh subur, nanti mungkin bisa kita bisa cobakan ke tanaman lain. Kemudian yang salah dari kita membuat kompos adalah mempabrikasi, karena dia harus diproses alam, karena seharusnya  alam menjadi tolak ukur layak tidak layaknya. Nah, bakteri ini kan sebenarnya masuk ke dalam celah-celah terkecil, seperti pipa dan lain sebagainya, nah bagaimana dengan kualitas air kita yang sudah melewati berbagai macam jenis tempat seperti, subtitenk warga dan lain sebagainya?.

Kalau menurut saya (Kak At), setidaknya di masing-masing rumah, kita punya setidaknya satu petak lahan 1m x 5m yang bisa ditanami tanaman contoh  yang menggunakan limbah rumah tangga sebagai pupuk. Nah lahan yang sudah sehat ini tidak perlu dicangkul (diolah) selama 10 tahun, nah biaya olah tanah jadi tidak perlu lagi. Selama ini kita kehabisan modal untuk mengolah dan menyuburkan tanah dan tanaman, semua ini butuh biaya. Seharusnya dia bisa subur dengan caranya sendiri, tanpa sistem modal besar seperti pertanian di hari ini. Tanaman akan mengolah makanannya sendiri dari tanah, bukan kita yang mengatur jam makannya dengan memberikan pupuk ini itu segala macamnya.

Uni Mimi : 2-3 tahun yang lalu di dekat rumah saya ada juga yang manaburnya di tanah kosong, lalu ditanami jagung, dia berbuah namun tidak bagus, kemudian pisang tidak bagus juga. Setelah itu dia mencobanya di rumput untuk pakan ternak, nah kalau itu bagus. Nah sekarang saya di sini bersama anak saya, dia menanyakan hal yang sama dengan Mas Tomi, lalu saya spontan menjawab kemungkinan akan menjadi buku dan sebagainya. Nah anak saya kan juga sekolah pertanian, mudah-mudahan pengetahuan ini bisa menjadi tambahan pengetahuan baginya selain di sekolah. Masalah tanaman, saya setelah pulang dari kegiatan yang sebelumnya, saya dibelikan bibit kangkung, dulu saya yang hanya memegang canting dan alat-alat batik, tidak menyentuh tanah, sekarang seperti ingin bersentuhan dengan tanah di dalam drum, lalu saya berikan kompos sapi dan sekam. 3 minggu yang lalu salah satu dosen di Padang, katanya orang Jepang sedang berminat tenaga kerja ibu-ibu Indonesia, karena sebagus apapun teknologi Jepang itu, katanya tanah itu butuh sentuhan, iya tidak manusia saja yang butuh sentuhan.

Kak At : Teknis bertani sebetulnya tidak serepot itu, ternyata hama yang dikendalikan itu bukan barang yang tidak tunduk pada perintah tuhan, saya sepakat dengan ketua koordinator penyuluhan pertanian Kota Solok, di sawah Solok, tikus tidak dianggap hama, tapi bala yang dia adalah hukuman tuhan. Maka untuk menghindari tikus itu dengan mengubah perilaku, kadang kesyirikan itu menimbulkan bencana. Baduy dalam mereka surplus sampai 50-60 tahun yang akan datang, di sana tidak pernah ada puskesmas, kantor pertanian dan lainnya, kenapa bisa? Karena cara mereka mengikuti keinginan alam, “tumbuhkanlah segala sesuatu dengan sifat alaminya, maka dia akan berkah”.  Kenapa rambut orang afrika harus keriting, karena kerasnya panas akan rambutnya mampu menahan panas.

Menurut hipnoterapi mindset itu perlu, jika tomat yang kita makan itu kita yakin dia bersih, ginjal kita bisa kita sehatkan ketika makan untuk ginjal, menanam kangkung atau lainnya ketika kita punya sakit, maka bacakanlah doa padanya “sehatkan saya” maka penyakit dipekerjakan oleh pikiran, ini perkara sugesti. Jadi, sehatlah dengan pikiran, dengan cara menanam yang sehat, sesungguhnya kita sudah berharap pada sesuatu untuk merubah diri kita dari apa yang kita tanam. Kesehatan bukan apa yang kita pengaruhi dari luar, tapi sehat adalah dari apa yang kita pikirkan.

Kalau pikiran kita lurus dan sehat, tinja itu tidak kotor, yang kita argumenkan tadi ekolin itu bisa dinetralkan oleh tanah, percayakah kita bahwa pohon Alpukat dan Nangka yang tumbuh subur dan lebat buahnya itu ada di kuburan, karena makanannya adalah tubuh manusia, dan sudah diselesaikan 1000 hari oleh bakteri.

Nah, harapan kita peserta Daur Subur ini punya lahan sehat seperti ini semuanya, yang di sini punya cabai, di rumah lainnya punya sayuran, di tempat lainnya punya tomat dan sebagainya, jadi kita bisa membuat perputaran produk kita sendiri, nah saya (Kak At) berharap Daur subur punya ini. Kita bisa tanami juga di dalam bahan pakaian yang sudah tidak terpakai, seperti celana dan lainnya.

Ni Pat : Menarik pertemuan malam ini banyak ilmu, menambah wawasan, dengan Kak At yang punya wawasan dengan ilmu hipnoterapi, tanaman dan juga penceramah, hehehe. Saya dan suami punya basic sama-sama dari pertanian. Setelah lulus, saya pernah menjadi penyuluh. Jadi ketika saya datang ke orang-orang untuk melakukan penyuluhan, ketika dia tau kami dari penyuluh, orang-orang menutup pintu. Ini menjadi pengalam bagi saya, kita jangan menggurui, kita datang karena ingin belajar, ingin tahu lebih banyak. Terkait dengan program ini, saya berharap mungkin dari diri kita sendiri, ini bertahap, minimal dari kita yang di sini punya setidaknya sedikit lahan pertanian yang berkesadaran walaupun kecil. Jadi akhirnya kita punya siklus lab mini, tapi kita bisa konsisten.

Hendra : Di sini, kita tidak hanya berbicara tentang pertanian, alam dan lainnya tapi juga tuhan, artinya di sini ada keberkahan, jadi ada sebuah hadis riwayat Al Bukhari,

tidaklah seorang muslim yang menanam tanaman atau bertani, lalu ia memakan hasilnya atau orang lain dan binatang ternak yang memakan hasilnya, kecuali semua itu dianggap sedekah baginya” (HR. Al Bukhari 2320).

Alhamdulillah ini menjadi pedoman bagi kita, seperti yang dipantik Kak At sebelumnya, apapun yang kita lakukan ini untuk keberlangsungan, nantinya bagaimana jadinya lingkungan dan bangsa kita. Karena yang kami lakukan di Galanggang Raya Farm, menjadi cemooh di masyarakat, dari beternak kambing, hasilnya kok segitu-segitu saja. Konteksnya di sini adalah, kami berpedoman bahwa bertani ataupun beternak adalah bagaimana menjadikan kita sebagai orang yang memiliki rasa cukup dan rasa sadar. Apa gunanya ternak kita banyak kalau kita tidak berdaya. Harapannya dengan pertemuan ini kita bisa menjadi local leader baru, bermanfaat untuk diri sendiri dan orang banyak.

Bu Sofni : obrolan kita daging semua, tapi juga ada tulangnya, tidak mungkin ada daging tapi tidak dengan tulangnya, hehe. Saya tertarik dengan limbah kotoran manusia, saya punya lahan di KWT, saya secara pribadi lahan saya siap untuk dijadikan percontohan, seperti pengalaman Mimi tadi yang belum berhasil, bagaimana dengan kita coba di lahan kita sendiri, mungkin ada teknis yang lain. Soal limbah dapur, saya dan kelompok sudah mencobanya, tapi mungkin belum sempurna, kami menaruhnya di dalam ban yang tidak terpakai, dan itu sudah 3 tahun, dan sering tergerus hujan.

Kak At : Kompos Botani itu pasti gagal, karena kompos itu dibuat untuk menyuburkan tanah, bukan tanaman, kenapa di tempat ibu sofni tidak pakai kehol, ketika terjadi pembusukan dimana tanaman itu tumbuh, maka tanaman itu akan menguning daunnya, karena proses komposisasinya terjadi di pangkal tanaman, dan itu hangat. Jadi seharusnya setelah dikasih kehol harus diberikan tanah satu lapis, tanah itu gunanya di dalamnya ada mikroba penghancur, setelah beberapa. Ulan dia penuh, jadilah pupuk.

Tugas kita dalam bertani berkesadaran ini adalah sadar tidak boleh menyeberang jalan, kita dari awal berkomitmen bahwa untuk memelihara satu/dua ekor kambing itu harus menanam Jagung dan Ubi, satu ekor kambing butuh 4 batang ubi, dan 8 batang Jagung, jika satu pohon Jagung menghasilkan 2 bonggol jagung , maka satunya dijual satunya untuk makan Ayam, jadi terintegrasi.

Zekalver : berkesadaran itu kita maknai beragam juga, apa yang kita diskusikan ini mungkin juga menjadi pembacaan di generasi berikutnya juga. Ternyata di era sekarang, ada juga pembahasan seputar ini. Bahkan di Gubuak Kopi, juga berbeda, karena mungkin juga latar belakang yang berbeda, kalau saya di Jawi-jawi, dari kecil terbiasa melihat aktivitas orang tua di sawah dan ladang. Saya teringat ketika awal-awal Daur Subur (2017), saat itu, kita melihat pertanian yang mesti dibahas di Kota Solok. Kesadaran waktu itu, belum jauh. Saat membentuk ruang ini, kita melihat (sensus) taman warga, dan itu rutin hingga akhirnya kita bisa bertukar teknik menanam, karena dari rumah ke rumah caranya berbeda-beda. Nah pertemuan dan obrolan tersebut kita arsipkan di buku dalam bentuk sketsa dan catatan, setelah diterbitkan obrolannya menjadi bertambah, lalu menjadi obrolan baru. Memang kalau dimulai dari orang sekitar kita memikirkan hal yang sama, satu pembacaan, dengan kesadaran ini, tentu ini bisa dilihat generasi nantinya sebagai nilai yang konsisten.

Albert : Banyak sekali yang kita dapatkan di malam ini, khususnya bertani berkesadaran ini, kami juga menyadari ada nilai lebih dari pertanian itu sendiri, karena dalam konteks belajar kebudayaan di Gubuak Kopi, kita menelusuri hal-hal baik yang kemudian menjadi kebudayaan. Misalnya di Minangkabau itu, strategi survive  itu bertani, mengelola ruang dan lingkungan  hidup yang kemudian dimaknai secara terus menerus, proses dari pertanian itu yang kemudian kita menemukan ilmu-ilmu baru yang disarikan dalam ilmu bahasa. Hal itu berkembang menjadi metode berfikir, entah itu menjadi metode dalam silat, metode dalam bermusyawarah, nah itu berangkat dari apa yang dilakukan orang-orang terdahulu yang dilihat dari alam, alam takambang jadi guru itu juga dikembangkan dari praktik pertanian itu sendiri.  Kalau kita bayangkan instantnya di tanah ini Minang ini menyadari tanah yang subur dan kemudian memanfaatkannya untuk bertahan, kemudian dari satu pertanian muncul profesi-profesi baru, mendukung pertanian. Mungkin tidak hanya profesi tapi juga ilmu-ilmu, juga adat dalam bergaul itu juga bagian dari itu. Kami juga melihat tradisi mensyukuri hasil pertanian, Yang kemudian membentuk karakter lokal kita di Sumatera Barat atau pun di Indonesia. Waktu kami ke Lombok, di sana kita bertemu petani-petani di Kerujuk, menarik ketika melihat warga memaknai pertanian, kesadarannya adalah mengolah apa yang telah diberikan oleh Tuhan yang kemudian, sebagai manusia kita dituntut untuk berfikir kemudian bagaimana kita memeras otak untuk menjaga keberlangsungannya. Setiap setahun sekali ada tradisi merowah laut, hutan dan lainnya, tradisi bersyukur setelah pertanian selesai.

Seperti Hadist tadi, kecukupan dan bagaimana kita mensyukuri apa yang bisa kita kelola dan bagaimana itu bisa bermanfaat untuk diri kita sendiri, itu juga kami lihat di Lombok. Kita yakin juga mungkin hal itu juga banyak di sini dulu. Ketika saya kuliah di Karawitan ISI Padangpanjang, banyak sekali musik-musik yang tumbuh dari pertanian, menghalau hama, syukuran panen yang diiringi dengan kesenian. Kita melihat pertanian tidak hanya tumbuh dari segi komoditas, tapi juga bagaimana kita memaknai yang ada di sekitar kita dan mengembangkannya entah itu menjadi pengetahuan baru atau menjadi cara kita mensyukurinya juga. Lalu bagaimana ini juga bisa membangun kesadaran kita dari segi kemanusian, bagaimana kita membangun keberlangsungan, karena keberlangsungan tidak hanya hari ini tapi juga generasi setelahnya. Salah satunya adalah dengan mencatatnya.

Terkait Daur Subur, kita punya bayangan bagaimana ini bisa berkembang, kita menyadari ‘bagi-bagi bola’ karena kita yakin sebagai bagian dari ekosistem kebudayaan pertanian ini perlu banyak  peran untuk memperkuat pertanian itu sendiri, entah itu dalam segi mediasi informasi, mengemas informasi, pertanian menginspirasi kebijakan. Jadi ada berbagai peran yang perlu kita kelola bersama-sama. Kami membayangkan Daur Subur adalah platform yang tidak ada akhirnya, akan kita selenggarakan terus menerus. Diskusi bulanan ini kami berharap terus ada tanpa target batas waktu yang ditentukan, jadi ini semacam silaturahmi kita juga, berbagi hal-hal baru. Kedepannya semoga kita akan diperkaya dengan topik-topik yang berbeda.  Semoga diskusi ini terus berlanjut.

M. Biahlil Badri
Solok, 22 Maret 2025


Artikel ini sebelumnya telah dipublikasi di www.gubuakkopi.org dan dipublikasi kembali di situs ini sebagai rangkaian menuju Tenggara Festival 2025

More
articles