Catatan Lokakarya Daur Subur XI
Pertanian itu bukan cuma soal tanam dan panen. Ia adalah napas hidup, adab, dan spiritualitas yang menuntun keseharian. Di Minangkabau, bertani mengalir dalam darah gotong royong, menyatu dengan tanah pusaka, dan jadi kekuatan utuh sebuah komunitas. Ini adalah cara hidup yang merajut erat hubungan manusia dengan bumi. Masyarakatnya berakar kuat pada tanah, mewariskan ilmu, nilai, tradisi, dan praktik bertani dari generasi ke generasi.
Namun, nilai-nilai itu kini terancam. Bayangkan saja, di Solok — kota di Sumatera Barat yang napasnya adalah pertanian — dalam 14 tahun terakhir, lanskapnya telah berubah drastis. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dulu pada 2010, ada 1.258 hektar sawah terhampar. Kini, di 2024, angkanya anjlok jadi 876 hektar. Ratusan hektar lahan pertanian itu berubah menjadi perumahan, toko, kantor, hingga kebun monokultur industri.
Para petani seperti terjebak labirin masalah di tengah ambisi pembangunan kota. Mereka tercekik oleh bibit dan pupuk kimia, harga pasar yang tak menentu seperti gelombang, bayangan gagal panen, lilitan tengkulak, kemiskinan, hingga hantu perubahan iklim dan ancaman lingkungan.
Tak cuma itu, gerak cepat teknologi diam-diam mengubah denyut kehidupan warga. Dulu, kerja keras butuh bahu-membahu, kini cukup satu sentuhan alat modern. Ruang maya memang memangkas jarak, namun ternyata ikut meregangkan ikatan sosial di dunia nyata.
Meski begitu, Kota Bareh kini masih bernapas karena beragam kelompok masyarakat dan etnik di dalamnya —mulai dari petani, peternak, penulis, UMKM, pegiat wisata, hingga pekerja formal—masih terhubung dengan akar budaya pertanian.
Di Solok, ada Komunitas Gubuak Kopi, sebuah komunitas belajar seni dan media yang hadir sejak 2011. Mereka punya cara unik: memakai seni sebagai metode riset sembari menjembatani seniman, peneliti, penulis, dan warga untuk berkolaborasi mengupas persoalan budaya di Solok dan Sumatera Barat.
Komunitas Gubuak Kopi menjawab tantangan ini lewat Daur Subur—sebuah studi yang memetakan, mengkaji, dan mengarsipkan tentang budaya masyarakat dan kait hubungnya dengan dinamika sosial, ekonomi, dan politik terkini.
“Daur Subur ini, seperti program tahunan kami lainnya, meramu pengetahuan dari peristiwa budaya untuk memahami masalah di masa kini,” jelas Albert Rahman Putra, ketua sekaligus pendiri Komunitas Gubuak Kopi (02/07). “Proses ini terwujud dalam berbagai bentuk: mulai dari lokakarya literasi media, pengelolaan arsip, program seniman tinggal (residensi), proyek seni, sampai pameran.”
Albert menyoroti, ruang percakapan kita kini makin sempit. Kesibukan pribadi membuat setiap orang seolah tenggelam di dunianya masing-masing, jarang ada waktu untuk bersua secara bermakna. Seniman, misalnya, membahas isu sosial hanya di galeri atau studio, sehingga karyanya cuma menyentuh kalangan yang itu-itu saja. Hal serupa juga dialami petani, guru, penulis, UMKM, dan penggiat komunitas lainnya.
Maka dari itu, Daur Subur hadir sebagai ruang temu. Di mana, setiap orang diajak saling belajar dan apresiasi, membuka jalan kolaborasi lintas bidang untuk menjawab hal-hal yang muncul dari dinamika kebudayaan.
Jangkauan Daur Subur kini telah membentang luas, tidak hanya di Solok, Padang Sibusuk (Sijunjung), dan Alai Parak Kopi (Padang). “Biasanya kami akan mempresentasikan hasil studi Daur Subur ke warga di mana tempat project dilakukan,” imbuh Albert.
Program ini telah dipresentasikan dan dipamerkan di kancah nasional maupun internasional sebagai salah satu model praktik artistik dalam merespon persoalan sekitar meliputi Palu (Pekan Seni Media, 2018), Parepare (Makassar Biennale 2021), Bengkulu (Festival Komunitas Seni Media), Jakarta (Jakarta International Literary Festival), dan Seoul, Korea Selatan (ARKO Art Center).
Tahun 2025 menandai 11 tahun perjalanan Daur Subur, yang kini menjalin ratusan jejaring di Sumatera Barat, nasional, hingga kancah global. Daur Subur #11 kali ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan melalui Dukungan Institusional untuk Lembaga Kebudayaan.
Membangun Solok dari Akar Budaya: Gotong Royong ala Komunitas Gubuak Kopi
Daur Subur #11 mengangkat tajuk “Tidak Kayu, Tangga Dikeping”. Ungkapan dari pepatah Minangkabau ‘Indak Kayu, Janjang Dikapiang’ ini secara harfiah berarti membuat belahan kayu dari tangga jika tiada kayu utuh—sebuah metafora untuk berkarya dan memulai dari keterbatasan atau kondisi tidak ideal.
“Kami mulai dari merenungkan Solok, dinamika dan potensinya. Apa yang tersisa? Dan apa yang bisa kita lakukan dengan semua yang ada?” ujar Albert.
Perjalanan Daur Subur kali ini dimulai sejak Februari hingga pertengahan 2025, diawali dengan Forum Grup Diskusi (FGD). Di sana, berbagai pikiran bersua: dari seniman, pelaku UMKM, petani, peternak, hingga pemangku kebijakan. Mereka saling bertukar pandang, memanen ide tentang imaji Solok sebagai pusat kebudayaan pertanian.
Menurut Albert, imajinasi tentang kota itu majemuk layaknya mozaik; warga, komunitas lintas disiplin, dan pemerintah bisa memiliki harapan berbeda. Maka, ruang ini menjadi wadah untuk saling mendengar, memahami, dan membentangkan semua persoalan di atas meja agar dialog dapat bergulir.
Selama ini, warga Solok sendiri telah aktif menyumbangkan kontribusi nyata bagi kota lewat berbagai inisiatif. Sebut saja Mimi, pendiri Batik Tarancak di Solok sejak 2014, yang tak hanya berinovasi dengan pewarna alami dari tumbuhan pekarangan dan limbah buah, tapi juga mendaur ulang kertas serta lilin untuk kreasi batik songketnya.
Di sektor pertanian, benih inovasi terus tumbuh. Huma Inovasi merajut pertanian terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari pakan ternak, pupuk, bibit, pestisida hingga hasil pertanian sehat bebas kimia, sembari menggandeng petani menuju kemandirian dengan paradigma pertanian sehat yang hemat biaya. Senada, Galanggang Raya Farm membangun simpul ekonomi berkeadilan dengan menjual ternak sehat dan berkolaborasi erat bersama petani, memastikan harga yang adil.
Inisiatif juga berkembang di pengolahan pangan, seperti Rendang Hj. Fatimah yang meracik rendang dari daging segar dan bumbu alami, bebas kimia dan pengawet. Sementara Kelompok Badaceh – Kelompok Wanita Tani (KWT) Nangka hadirkan olahan makanan sehat tanpa pengawet, pewarna, atau pemanis buatan.
Bagi Komunitas Gubuak Kopi, budaya adalah napas keseharian warga. Dari interaksi, pengalaman, dan praktik hidup masyarakatlah ditenun bahasa, adat, nilai, seni hingga sistem ekonomi.
Bagi Komunitas Gubuak Kopi, budaya adalah cerminan keseharian warga. Interaksi, pengalaman, dan praktik hidup di masyarakat-lah yang membentuk bahasa, adat istiadat, sistem nilai, kesenian, dan sistem ekonomi.
Berangkat dari pemahaman ini, Komunitas Gubuak Kopi mengusung konsep gotong royong dalam community development—sebuah model pembangunan di mana inisiatif warga menjadi akar utamanya.
“ Kota tumbuh dari harapan kolektif warga, bukan dari langit lewat pendekatan top-down, tegas Albert.” Inisiatif akar rumput yang telah disemai warga perlu dihimpun pemerintah sebagai pondasi program berkelanjutan. Dengan begitu, pembangunan tak lagi sekedar proyek sementara yang mudah diganti, melainkan kerja yang terus berlanjut melampaui pergantian kepemimpinan,” imbuh Albert.
Lokakarya dan Residensi Memperkuat Inisiatif Warga
Setelah FGD, Komunitas Gubuak Kopi menggelar lokakarya literasi media Daur Subur #11 pada tanggal 9-15 Juni 2025. Kegiatan ini mempertemukan 10 individu dari beragam latar belakang untuk merangkai gagasan dan berbagi pengalaman praktik dalam merespon dinamika kebudayaan pertanian di Solok dan Sumatera Barat.
Mereka adalah Dika Badik (seniman), Sofni (Komunitas Badaceh/ Kelompok Wanita Tani), Deni Leo Nardo (Guru), Upiak DNR (Pokdarwis Tangaya), Rio Ritu Selah (Huma Inovasi), Elmiko (KBCCN Kab. Solok), Hendra Saputra (Galanggang Raya Farm), Batik Tarancak (Mimi), Angelique Maria Cuaca (penulis/Pelita Padang), dan Biki Wabih Amdik (seniman).
Pada sesi awal, para peserta mendalami pengarsipan berbasis media. Mereka belajar cara mendokumentasikan keseharian warga—mulai dari tulisan, foto, video, hingga rekaman suara—lalu menyebarluaskannya melalui media sosial dan platform alternatif.
Selama lokakarya, para peserta menjelajahi tiap sudut Kota Solok setiap sore, mengabadikan momen dan menulis narasi dari apa yang mereka lihat dan rasakan.
Mereka juga berkunjung dan berdiskusi langsung dengan petani dan peternak di Galanggang Raya Farm dan Huma Inovasi, serta mempelajari sistem pertanian terintegrasi. Kunjungan berlanjut ke kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Tangaya di Danau Singkarak untuk memahami pengelolaan wisata berbasis masyarakat.
Lokakarya semakin kaya karena kehadiran narasumber tamu. Ada Buya Khairani, tokoh masyarakat di Solok membentangkan makna mendalam tentang halaman rumah gadang sebagai ruang ketahanan pangan dan pertemuan sosial. Gibran Tragari dari Sendalu Permaculture – Depok memperkenalkan prinsip merawat bumi, merawat manusia, dan keadilan lingkungan—sistem desain untuk kehidupan yang berkelanjutan dan selaras alam.
Dalam sesi lain, penulis Fatris M.F, Pustaka Steva – Padang menjelaskan soal jurnalisme warga, dilanjutkan dengan diskusi film ‘The Land of the Dragon‘ yang mengkritisi wisata premium dan konservasi komodo yang meminggirkan masyarakat adat di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur.
Ilham Samudra dari Jatiwangi Art Factory (JaF) – Jawa Barat berbagi cerita tentang bagaimana mereka memanfaatkan sejarah industri tanah liat lokal sebagai inspirasi. Melalui proyek Kota Terakota, JaF memperbaharui identitas kota berdasarkan harapan masyarakat, memperluas makna tanah.
Avi Chadijah dari Memo Dapur-Makassar menekankan pentingnya mendokumentasikan pangan lokal, termasuk cara pengolahannya yang kaya akan sejarah dan budaya.
Lokakarya ini ibarat benih gagasan yang disemai, memberi semua yang terlibat gambaran tentang “peta kerja bersama” yang akan menumbuhkan kolaborasi antar warga.
“Selama ini kita merasa berjalan sendiri di padang luas. Ternyata kita hanya perlu saling menyapa dan berbagi cangkir kopi agar percakapan mengalir, lalu ide-ide pun bermunculan,” ujar Elmiko dari KBCCN. Diah dari Pokdarwis Tangaya menambahkan, lokakarya ini mempertemukan kita dalam ruang aman untuk bercerita, belajar, dan saling menopang.
Selain lokakarya, ada pula residensi seni yang menjadi laboratorium kreatif, di mana M. Ilham Samudra (Jatiwangi Art Factory-Majalengka), Angelique Maria Cuaca (Pelita Padang), Avi Chadijah (Memo Dapur-Makassar), Rizziq Ramadhan (Makmur Djaja-Jakarta), dan M. Reyhan Fauzi (Makmur Djaja-Jakarta) akan membuat karya bersama warga dan tetangga Gubuak Kopi selama sebulan penuh.
Semua ini adalah bagian dari Daur Subur #11, sebuah pemantik bagi Festival Tenggara yang akan menyala di tanggal 1-10 Agustus 2025.
Festival Tenggara sendiri adalah panggung warga Solok, tempat di mana: pengetahuan lokal dirayakan, imajinasi tentang kota saling berdialog, inisiatif tumbuh, dan masa depan dirajut dari niat baik. Nantinya, akan ada pesta ide dan karya: pameran seniman dan warga, lokakarya seni yang membuka mata, pertunjukan jalanan yang menghidupkan sudut kota, hingga simposium yang menggodok ramuan wacana tentang budaya pertanian dan seni kontemporer di Kota Solok.
–
Solok, Juli 2025
Angelique Maria Cuaca
*Artikel ini sebelumnya telah dipublikasi di sumbarsatu.com dan dipublikasi kembali di tengggafestival.id atas izin penulis




































