Tenggara Festival adalah sebuah perhelatan seni dua tahunan yang digagas oleh Komunitas Gubuak Kopi bersama jejaring komunitas di Sumatera Barat sejak  tahun 2020. Festival ini menjadi ruang perayaan dan perluasan wacana seni yang diinisiasi oleh komunitas warga dalam berjejaring membangun kota yang lebih inklusif. Festival ini memberi ruang pada inisiatif anak muda, kelompok warga, seni jalanan, dan praktik D.I.Y untuk bertindak secara kolaboratif bersama ekosistem kota, demi ruang hidup yang lebih baik.

Tentang Tenggara Festival (2019-sekarang)

Pada 2019 lalu, Komunitas Gubuak Kopi bersama Gajah Maharam Photogrphy mengadakan Solok Mural Competition di Solok, Sumatra Barat yang bertemakan “Alam Bareh Solok”. Kegiatan mengundang keterlibatan seniman dari berbagai kota, merespon persoalan di Kota Solok yang masih gaduh dengan persoalan identitas, untuk menyuarakan semangat optimisme untuk terlibat membangun kota,  dan mengimajinasikan kota masa depan yang lebih baik. Pada tahun 2019, Komunitas Gubuak Kopi mengembangkan Solok Mural Competition menjadi Tenggara Festival yang bertujuan meluaskan wacana, baik dari segi penyelenggaraan maupun artistik. Program-program saat ini mencakup, Residensi Seniman, Lokakarya, Street Art Jam Session, dan tentunya pemberian penghargaan untuk kawan-kawan muda yang berpartisipasi. Pada tahun tersebut, Komunitas Gubuak Kopi melibatkan Jejaring Rumah Tamera HUB dan Visual Jalanan sebagai tim pengembangan ide artistik.

Pada tahun 2022, Tenggara Festival #2 kembali diselenggarakan dengan melibatkan jejaring komunitas lebih luas lagi, termasuk menambahkan Bujangan Urban selaku artistik board. Seri ini mengajak Tenggara Festival untuk benegosiasi dengan publik dan usaha-usaha di Solok, seperti kedai kopi dan rumah penggilingan padi untuk berdialog dengan strategi “seni populer” dan “seni jalanan” dalam mengambil atensi publik untuk terlibat dalam agenda bersama dalam pembangunan wilayahnya. Termasuk mengaktivasi salah satu pos ronda dan memperlebar ide “Sistem Keamanan Lingkungan” (Siskamling) sebagai ruang warga dalam mengupayakan keselamatan lingkungan di masa mendatang, tidak hanya peristiwa insidentil, tetapi juga distribusi pengetahuan ekologis dengan pendekatan kebudayaan.

Pada tahun 2024, Tenggara Festival sempat tertunda. Ada perubahan mendasar terhadap strategi festival — yang sebelumnya sebagai perayaan atas atas aktivitas komunitas warga, kemudian menjadi ruang memperkuat aktor-aktor kebudayaan di Solok. Sehingga, Tenggara Festival menyajikan rentetan desain program yang cukup panjang. Menerjemahkan kembali semangat “street art” dan”DIY Culture” untuk berdialog pada aktivisme warga.

Tahun 2025 Tenggara Festival mengusung “Tidak Kayu, Tangga Dikeping” sebagai tema utama. Tidak (ada) kayu, tangga (kayu) dikeping adalah semangat yang kami panen dari pertemuan-pertemuan dengan puluhan inisiatif (individual maupun kolektif) yang terus bergerak di Solok: menyiasati keterbatasan akses dan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak. Pertemuan-pertemuan tersebut diakomodir dalam dialog-dialog artistik, menemukan kesamaan, memperkuat akar dan menetapkan agenda bersama dalam mewujudkan imajinasi baru. Dengan semangat yang dibuktikan dalam perkembangan praktik “street art” dan “DIY Culture” di Indonesia hari ini, Tenggara Festival mencoba melihat kembali posisi siasat (tindakan alternatif) warga sebagai eksperimen untuk menemukan metode-metode yang berkelanjutan, yang menunjukkan dampaknya, yang mungkin menjadi arus utama berikutnya. Tahun 2025, Tenggara Festival mengundang keterlihatan M. Ilham Samudra dari Jatiwangi Art Factory sebagai Direktur Artistik, dan 60 seniman untuk berkontribusi di 9 titik kegiatan di Kota Solok.

Penyelenggara
Komunitas Gubuak Kopi

Artistic Board
Albert Rahman Putra, Volta Jonneva, M. Biahlil Badri, dan Bujangan Urban.

Pada setiap serinya, Tenggara Festival juga mengundang keterlibatan Direktur Artistik tamu untuk memperkaya artikulasi artistik gagasan festival.